Cahaya Dongeng Rona Mentari

Muda dan mantap berkarya di bidang yang tidak biasa. Itulah Rona Mentari, pendongeng belia kelahiran Yogyakarta, 23 September 1992.

Tak main-main dalam menjalani pilihannya, alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina ini selalu bersemangat mengampanyekan dongeng serta aktif berpartisipasi dalam berbagai festival dongeng, di dalam maupun luar negeri. Rona juga penggagas gerakan Rumah Dongeng Mentari, yang telah dua tahun terakhir ini sukses menghelat Pagelaran Dongeng Jogja — pertunjukan dongeng istimewa di dalam hutan!

Kecintaan Rona pada dunia storytelling telah membawanya ke Inggris, di mana gadis yang biasa disapa Kak Rona ini mengikuti short course di International School of Storytelling, Emerson College.

Pantas kan, kalau SiKancil memilihnya sebagai sosok inspiratif! Yuk, kenal Kak Rona lebih jauh.

Cerita dong bagaimana dongeng membawa Kak Rona sampai ke Inggris!

Setelah aku memilih untuk fokus di dunia storytelling, rasanya banyak hal yang perlu didalami lebih lanjut. Jadi, aku mencari informasi, di mana bisa belajar lebih dalam tentang storytelling. Singkat cerita, sambil terus beraktivitas mendongeng di Indonesia, aku menemukan International School of Storytelling di Inggris.

Ada beberapa storytelling school di dunia, tapi yang di UK ini tampak paling meyakinkan. Aku banyak bertanya dan mencari info tentang sekolah ini. Ternyata, banyak temanku dari luar Indonesia yang juga fokus di dunia storytelling menyarankan tempat ini. Akhirnya, aku mantap untuk mendaftar.

Alhamdulillah… aku diterima setelah melalui tahapan-tahapan pendaftaran. Namun, karena biaya yang dibutuhkan tidak sedikit, aku harus mencari cara agar bisa mendapat beasiswa. Aku mencoba mengajukan beasiswa melalui Beasiswa Unggulan Non-Degree dari Kemendikbud. Alhamdulillah, aku diterima. Senang sekali rasanya!

Awal datang ke sini tentu semangat sekaligus takut. Ini pertama kali aku pergi ke luar Indonesia sendiri dalam waktu cukup lama, empat bulan. Beruntung, banyak teman-teman Indonesia yang membantu di awal kedatangan di UK. Di sini, aku menjadi satu-satunya pelajar dari Indonesia, dari total 18 siswa. Yang lain berasal dari Inggris, Amerika, Spanyol, Perancis, India, Belgia, dan Selandia Baru.

Banyak hal baru yang aku dapat di sini yang membuka mataku tentang betapa pentingnya storytelling. Programku sendiri dinamakan “Storytelling Beyond Words”, dan kami belajar tentang bagaimana aktivitas storytelling bermanfaat untuk menjawab tantangan masa kini. Kami juga belajar mengenal diri agar bisa memahami tujuan aktivitas storytelling yang kami lakukan.

Belajar di UK luar biasa. Suasana belajarnya sangat suportif, terbuka, saling mendukung, dan apresiatif.  Aku berada di countryside, jauh dari kota dan dekat dengan hutan dan peternakan. Merantau jauh untuk belajar sepertinya perlu untuk semua sahabat Si Kancil! 

Apa sih yang membuat Kak Rona jatuh hati pada dongeng?

Dulu aku bukan anak yang percaya diri. Minder. Nggak punya banyak teman. Saat TK, aku lebih sering menghabiskan waktu di dalam kelas saat istirahat. Tapi, aku selalu jatuh hati dengan dongeng yang disampaikan guru TK. Aku selalu saja terpaku dan menyimak.

Nah, saat pulang ke rumah, Mama selalu bertanya tentang kegiatan di sekolah. Dan aku selalu bercerita tentang pengalaman didongengi guru. Dari situ, aku akan menceritakan ulang dongeng yang disampaikan guru TK ke Mama. Hebatnya, Mama adalah seorang pendengar yang baik. Aku senang sekali saat bercerita ke Mama. Kalau Mama bukan pendengar yang baik, bisa saja aku tidak menjadi pendongeng seperti sekarang.

Mulai saat itu, aku jadi lebih percaya diri. Berani berbicara di depan umum, misalnya. Ternyata, dunia dongeng mengubahku dari anak yang minder menjadi anak yang lebih percaya diri!

Apa cerita favorit Kak Rona waktu kecil?

Guru TK-ku selalu menceritakan dongeng dengan tokoh Trimbil, seorang anak kecil yang tinggal di hutan. Trimbil selalu ingin tahu dan suka menjelajah, dan dia menemukan banyak hal baru dalam perjalanan. Itu bukan cerita yang terkenal. Cerita sederhana dari seorang guru TK, namun melekat sampai sekarang.

Mengapa Kak Rona membuat Rumah Dongeng Mentari?

Aku adalah bungsu dari tiga bersaudara. Dulu, waktu kakak pertamaku sedang kuliah kerja nyata di Papua, dia sering berkabar tentang aktivitasnya bersama anak-anak di Papua. Aku merasa terinspirasi. Aku dan kakak kedua ngobrol bersama dan merasa kita perlu membuat sesuatu untuk anak-anak di sekitar rumah, agar mereka punya tempat bermain dan belajar yang layak di luar sekolah, juga punya aktivitas baik yang menyenangkan.

Kami berpikir tentang kemampuan yang kami miliki. Karena aku bisanya mendongeng, maka aku terpikir, Kenapa nggak bikin Rumah Dongeng Mentari. Ide awalnya adalah mengundang anak-anak secara rutin ke teras rumah untuk didongengi, belajar mendongeng, dan belajar bermain bareng sama kakak-kakak. Kakak-kakak di sini, selain saya dan kakak, adalah pemuda desa dan teman-teman kampus kami.

Cerita dong tentang keseruan Pagelaran Dongeng Jogja! Apa yang ingin Kak Rona capai melalui ajang ini?

Aku dan teman-teman mantap untuk mempopulerkan budaya mendongeng. Salah satu caranya adalah dengan membuat acara besar untuk menghubungkan semangat dan harapan kita ke masyarakat secara langsung.

Kami memilih mengadakan Pagelaran Dongeng Jogja — sebuah pagelaran yang mempertemukan pendongeng dengan pendengarnya. Acara ini memberikan pengalaman mendengarkan dongeng dengan nyaman dan indah di alam terbuka agar anak-anak semakin dekat dengan alam.

Tempatnya cukup jauh dari Kota Jogja, tapi Alhamdulillah, selama dua kali digelar, antusiasme masyarakat cukup besar. Di tahun pertama kita hanya fokus di Pagelaran Dongeng Jogja di Hutan Pinus, Mangunan, Imogiri, Bantul.

Tahun kedua, kami kembangkan menjadi Awicarita Festival yang terdiri dari beberapa kegiatan, seperti Jelajah Dongeng (Semarang, Surabaya, Bali), Sayembara Pendongeng Cilik, Kelas Negeri Dongeng, dan puncaknya adalah Pagelaran Dongeng Jogja.

Kak Rona juga aktif ikut festival di luar negeri, seperti Singapore International Storytelling Festival, Sydney International Storytelling Festival, dan Wellington Storytellers’ Café. Bagaimana rasanya mendongeng untuk publik internasional? Adakah persiapan khusus?

Mendongeng di publik internasional tentu berbeda dari mendongeng di negara sendiri. Selain menggunakan bahasa yang bukan bahasa utama kita, budaya dan kebiasaannya pun berbeda. Tapi, mendongeng di mana pun sama-sama menyenangkan!

Di luar negeri, orang sangat mengapresiasi keunikan yang kita punya dan berasal dari negara kita. Mungkin karena mereka juga sangat jarang melihatnya. Seperti saat Kak Rona selalu menggunakan wayang saat mendongeng di publik internasional. Persiapan khusus tentu ada, seperti latihan bicara karena menggunakan Bahasa Inggris dan persiapan lain, seperti riset tentang kebiasaan di negara tujuan dan tentu, latihan matang untuk meminimalisir kesalahan saat mendongeng dan makin memahami isi dongengnya.

Bagaimana Kak Rona bisa membuat kanal Dongeng.TV di Youtube?  

Kanal Dongeng.TV dibuat untuk mempopulerkan budaya tutur di era digital dan memberikan alternatif tayangan baik untuk anak hari ini. Tantangan terbesarnya adalah membuat aktivitas sosial ini konsisten. Semoga di tengah kesibukan para relawan, kami masih tetap bisa memberikan yang terbaik untuk lingkungan melalui dongeng.

Apa sih manfaat dongeng di daerah bencana, seperti yang pernah Kak Rona lakukan di Sinabung dan di Bantul?  

Mendongeng itu banyak tujuannya, di antaranya adalah menghibur dan menyembuhkan. Mendongeng di daerah bencana akan menghibur anak-anak korban bencana sehingga mereka tak terlarut dalam kesedihan karena bencana di lingkungannya. Dengan begitu, luka jiwa karena trauma dengan bencana sedikit demi sedikit akan terobati karena indah dan menyenangkannya dongeng yang disampaikan.

Kak, cerita dong mengenai video “10 Dongeng Anti Korupsi”!

Dompet Dhuafa memiliki Pusat Belajar Anti Korupsi (PBAK). Nah, PBAK ini bekerja sama dengan Kak Rona Mentari dan Rumah Dongeng Mentari untuk menyebarkan nilai anti korupsi kepada anak melalui dongeng. Jadi, tim Rumah Dongeng Mentari membuat dongengnya, lalu aku mendongeng untuk direkam. Tim produksinya dari Dompet Dhuafa. Hasilnya disebarkan di seluruh Indonesia untuk bahan ajar dan belajar anak-anak melalui jaringan Dompet Dhuafa.

Terakhir, apa rencana dan harapan Kak Rona terkait dunia dongeng di Indonesia?

Tentu Kak Rona berharap bisa terus menyebarkan semangat mendongeng kepada masyarakat Indonesia. Semoga aktivitas mendongeng makin popular dan menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari keluarga di rumah dan lingkungan.

Terima kasih, Kak Rona! Semoga semua sahabat Si Kancil bisa mengikuti jejak semangat Kak Rona, ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *