Dreamlets: Sang Pembuat Mimpi

Akhirnya! Begitu saya berseru dalam hati ketika melihat “Dreamlets” di toko buku. Senang sekali melihat ada bacaan anak lokal yang tidak diberati pesan moral. Akhirnya, ada cerita yang diciptakan demi kepentingan cerita semata.

Dreamlets1

Buku ini berkisah tentang dreamlet, pembuat mimpi yang hidup di dalam tembok. Bentuk mereka mungil, lentur, berbulu, dan lucu. Mereka bisa terbang, menembus dinding, dan tak terlihat mata manusia.

Deel adalah salah satu dari banyak dreamlet yang tersebar di dunia. Tapi dia istimewa. Deel sempat menjadi anggota Komite Tinggi termuda yang bertugas mengatur pekerjaan dreamlet-dreamlet lain. Namun, kemudian dia bosan. Deel keluar dari jabatannya yang tinggi supaya bisa bekerja sebagai pembuat mimpi di panti asuhan. Deel berpikir, untuk apa jadi pembuat mimpi kalau tidak membuat mimpi?

Dreamlets2

Di panti asuhan, Deel bertemu dengan Emma. Sejak bayi, Emma memang sudah menetap di sana. Gadis kecil ini juga istimewa, seperti Deel. Emma punya hati yang sangat baik, dan lebih-lebih lagi, dia bisa melihat para dreamlet!

Demikianlah buku ini dibuka, membahas tentang dua karakter utama: Deel dan Emma. Nantinya, nasib mereka akan terus bersinggungan. Deel dan seluruh dreamlet harus berjuang melawan Boris yang mengancam keberadaan mereka. Lalu, tanpa disangka Emma datang sebagai penyelamat. Pada saat itu, Emma bisa bertemu dengan kedua orangtuanya. Semua berakhir bahagia.

“Dreamlets” bisa dibilang unik. Formatnya adalah picture book, tapi ceritanya panjang. Total, ada sebelas bab dalam buku ini.

Beberapa orang mengatakan, “Dreamlets” adalah buku yang bisa menjembatani tahapan baca anak, dari picture book menuju novel anak. Saya setuju. Buku ini memang bagus untuk melatih kesabaran anak dalam melihat gambaran besar dari sebuah cerita.

Dreamlets3

Dari sisi cerita, “Dreamlets” juga menarik. Penulisnya bisa memberikan gambaran yang utuh tentang dunia dreamlet: Bagaimana karakter mereka, dari mana mereka berasal, dan lain sebagainya. Pembaca seakan dibawa ke dalam alam imajinasi yang dapat dipercaya.

Oh ya, “Dreamlets” disajikan dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Buku ini cocok dibaca anak-anak usia sekolah dasar, entah sendiri atau bersama-sama dengan orangtua.

Agustina Sugianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *