Ketika Paman Kala Diam

Waktu adalah sesuatu yang konkret, namun sekaligus abstrak. Kita bisa mengajarkan anak-anak tentang jam, hari, bulan, dan tahun, tapi bagaimana dengan kekuatan waktu, waktu yang tak pernah kembali, waktu yang terus bergerak, dan waktu yang suka “mencuri”?

Kompleksitas inilah yang menjadikan waktu sebagai salah satu tema populer dalam sastra anak dunia, seperti “Tom’s Midnight Garden” karya Philippa Pearce (mewakili sederet novel anak legendaris yang mengangkat tema perjalanan waktu) dan “Alice in Wonderland” karya profesor matematika Oxford, Charles Lutwidge Dodgson alias Lewis Carroll. Dalam kisah Alice, waktu adalah tema tak kasat mata , seperti tampak dari tokoh kelinci putih yang selalu dikejar waktu dan pembuat topi yang terperangkap dalam satu waktu.

Dalam cerita anak Indonesia, waktu masih jarang dieksplorasi. Memang tak mudah membuat cerita mengenai tema ini tanpa jatuh pada nada menggurui, misalnya tentang pentingnya anak belajar mengatur waktu. Karena itulah, “Ketika Paman Kala Diam” menjadi unik; ia tak hanya berani mengangkat tema langka ini, tapi juga mengeksekusinya dengan baik.

Paman Kala adalah sebuah menara jam yang memegang peran penting sebagai pengatur ritme kehidupan penduduk kota Kalala. Sentral bagi kelangsungan kinerja Paman Kala adalah sebuah keluarga kecil yang tinggal di menara tersebut: Arka, ayahnya, dan Meong.

Suatu hari, ayah Arka harus keluar kota, dan tugas meminyaki Paman Kala jatuh pada putranya. Hari itu, Arka melakukan banyak hal. Dia menikmati waktu… sampai lupa waktu. Saat tersadar, ia kaget melihat para penduduk Kalala terlelap kelelahan karena hari yang tak kunjung usai. Ya, Paman Kala berhenti berdetak di pukul 3, padahal malam telah larut!

Arka segera pulang dan mencoba segala cara untuk membuat Paman Kala kembali bekerja.

Pada akhirnya, jam kuno tersebut pun berdentang kencang, dan waktu kembali normal.

Cerita ini menunjukkan pada pembaca cilik tentang pentingnya waktu dan tanggung jawab, namun tanpa satu pun kalimat eksplisit dan didaktis mengenai pesan tersebut. Sebaliknya, kisah Arka dan Paman Kala dengan luwes mengalir, ditambah detail ilustrasi di setiap spread yang sungguh asyik dinikmati bersama si kecil… mungkin sampai lupa waktu!

Herdiana Hakim

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *