Ketika Papa Kehilangan Pekerjaan

Saya senang sekali melihat keragaman tema cerita dalam buku anak saat ini. Tema-tema yang dekat dan relevan dengan tantangan yang dialami anak-anak kini hadir dalam bacaan anak kita, salah satunya lewat “Seri Pengembangan Emosi” dari Erlangga for Kids ini.

Judulnya saja sudah menggelitik. Ketika Papa Kehilangan Pekerjaan? Bukankah ini hal yang tidak nyaman untuk dibicarakan, apalagi dibahas dalam cerita anak? Nyatanya, ayah yang masih dipandang sebagai figur utama pencari nafkah keluarga dan harus kehilangan mata pencarian adalah realita yang tak bisa dihindari. Saat ini terjadi, buku anak sebagai bacaan terdekat si kecil harus siap menjawab keresahan yang muncul di masa kanak-kanaknya.

Dituturkan dari sudut pandang Boni, anak sulung di sebuah keluarga beruang, cerita ini mengajak para pembaca cilik berempati dengan situasi yang dihadapi Boni ketika ia mendapati rutinitas dalam hidupnya berubah signifikan: sang ayah yang setiap hari pergi bekerja suatu hari tidak berangkat ke kantor. Meski adik Boni justru senang karena sang Papa ada di rumah, Boni yang sudah lebih besar tahu bahwa ada sesuatu yang salah.

Dari sang ayah langsung, Boni mendapat jawaban: kantor Papa-nya ditutup dan ia pun kehilangan pekerjaan. Sembari berusaha mencari pekerjaan baru, sang ayah meminta keluarganya berhemat. Berbagai cemas dan tanya pun melanda Boni: Bagaimana kalau ia dan adiknya tidak bisa sekolah? Bagaimana kalau keluarga mereka tidak bisa makan?

Boni berupaya mengatasi keresahan dengan tekad: “Aku tidak boleh diam saja!” Boni yang pintar menggambar lantas membuat sejumlah pembatas buku yang ia jual ke teman-teman sekolahnya. Usaha Boni mencari tambahan uang membuatnya nyaris lupa pada tugas utamanya untuk belajar. Di sini, Boni menunjukkan agency-nya sebagai seorang anak, bahwa dia bukan peserta pasif dalam kehidupan keluarganya dan punya kekuatan untuk turut mengubah keadaan. Perspektif ini masih jarang saya temui di buku anak kita.

Jangan khawatir, buku ini tetap menegaskan bahwa tugas mencari uang bukan berada pada anak, melainkan pada orangtua. Ibu Boni mengingatkannya bahwa ia harus mengutamakan sekolah; lagipula, sang ibu juga tak tinggal diam karena ia ikut menambah penghasilan lewat jualan kue. Buku ini juga memperingatkan orangtua bahwa kecemasan yang dialami anak saat keluarganya mengalami masalah tak boleh dianggap sepele. Cara orangtua mengatasi rasa cemas anak adalah landasan penting dalam perkembangan psikologis si kecil, terutama saat ia belajar mengatasi emosi negatif.

Semua pesan penting tersebut disampaikan oleh buku cerita ini tanpa menjadikannya bacaan “berat”. Sebaliknya, pemakaian beruang sebagai antropomorfisme (ciri-ciri manusia pada hewan atau makhluk lain) memungkinkan penyajian tema serius kepada anak. Sebagai catatan, sejumlah studi terhadap buku anak menunjukkan bahwa hewan adalah karakter favorit saat membicarakan topik-topik yang bisa dianggap menakutkan bagi anak.

Akhir cerita pun tak dipaksakan karena sang ayah masih belum mendapat pekerjaan baru, namun si anak belajar untuk tidak kehilangan harapan dan optimisme, apa pun yang akan terjadi pada keluarganya. Buku ini juga dilengkapi pesan psikolog untuk orangtua maupun anak, plus sejumlah saran untuk mengatasi kecemasan anak. Ah, seandainya saja buku ini ada waktu saya kecil dulu!

Di sini, saya melihat perwujudan teori dalam studi sastra anak, yakni bahwa buku anak berpotensi sebagai ‘mirrors, windows, and doors’. Sebagai ‘mirror’ alias cermin, buku anak menampilkan situasi yang dekat dan relevan dengan anak sehingga anak merasa terwakili dalam cerita. Sebagai ‘window’, cerita ini memberi peluang pada anak untuk melihat apa yang bisa ia lakukan jika mengalami situasi serupa. Dan, sebagai ‘door’ atau pintu, cerita dalam buku ini menjadi penuntun saat anak berperan aktif mengatasi masalah yang ia hadapi, termasuk emosi-emosi negatif yang ia alami.

Pendek kata, buku ini sangat direkomendasikan! Cocok untuk anak usia SD yang, seperti Boni, sudah bisa memahami persoalan keluarga dan melihatnya dari perspektif orang lain. Lengkapi juga dengan judul lain dalam seri ini, seperti “Ketika Mama Pergi”, “Ketika Kami Harus Pindah”, dan “Ketika Aku Punya Adik”.

Herdiana Hakim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *