Putri Kemang

Bila ditilik dari isinya, “Putri Kemang” bukanlah cerita rakyat yang lazim. Jika biasanya kita disuguhi kisah tentang pangeran yang menyelamatkan putri, maka di dalam cerita ini, kita akan menemukan seorang putri yang menyelamatkan sang pangeran.

Alkisah, hiduplah seorang putri raja yang memiliki sifat seperti laki-laki. Namanya Putri Kemang. Ia sangat ulung dalam bermain pedang dan memanah.

Suatu hari, Putri Kemang pergi berburu. Ia keluar masuk padang belantara dengan berani, sampai ia menemukan sebuah pohon kemang. Ternyata, pohon itu adalah jelmaan seorang pangeran yang dikutuk oleh para dewa.

Sang putri ingin mengajak pangeran itu ke kerajaan ayahnya, namun sang pangeran berkata tidak bisa. Dia harus tetap tinggal sampai seisi hutan kembali menjadi kerajaan besar dan penghuninya menjadi manusia.

Putri Kemang mengerti. Namun sebelum pulang, ia sempat berjanji akan kembali ke hutan itu suatu hari nanti.

Kemang1

Setahun berlalu. Putri Kemang kembali berburu ke hutan. Tanpa disangka, kali ini sang putri menemukan sebuah kerajaan besar di sana. Ternyata, itu adalah kerajaan milik sang pangeran. Sekarang dia sudah terbebas dari kutukannya.

Putri Kemang lantas mengajak sang pangeran berkunjung ke kerajaannya. Ayah Putri Kemang menyambut mereka dengan gembira, kemudian menjodohkan keduanya. Kisah pun ditutup dengan indah.

Jujur, bila dirasa-rasa alur cerita “Putri Kemang” ini agak datar. Tapi mungkin itu karena saya mengharapkan sebuah dongeng romantis ala Disney. Seharusnya saya mengerti bahwa “Putri Kemang” memang bukan membahas tentang kisah cinta antara pangeran dan putri. Putri Kemang bukanlah Mulan.

Saya harus membaca “Putri Kemang” seperti membaca sebuah biografi, sebuah jurnal tentang tokoh perempuan yang pemberani, mandiri, dan juga cerdas. Ia tidak pernah takut sedikit pun saat masuk ke dalam hutan yang ternyata dipenuhi mahluk-mahluk siluman. Ia juga tidak kehabisan akal saat harus menghadapi buaya-buaya yang hendak memangsanya. Dengan kecerdikannya, Putri Kemang berhasil memperdayai buaya-buaya itu dan meloloskan diri.

Bagian di mana Putri Kemang menemukan sang pangeran adalah bonus. Itu sebuah pemanis yang menandakan bahwa ada jodoh yang sesuai bagi semua orang. Bahkan bagi seorang putri yang punya sifat seperti laki-laki.

Kemang2

Cerita rakyat dwibahasa (Inggris-Indonesia) ini akan cocok dibacakan sebagai kisah pengantar tidur bagi anak-anak yang berusia lima tahun ke atas. Anak yang berusia delapan tahun ke atas juga bisa membacanya sendiri. Terutama anak-anak putri. Siapa tahu, mereka bisa terinspirasi oleh sosok Putri Kemang yang unik.

Agustina Sugianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *