Serunya Punya Saudara

Saya nyaris jadi anak tunggal sampai ibu saya melahirkan seorang adik ketika saya hendak masuk SD. Perbedaan usia 6 tahun membuat hubungan saya dan adik penuh dinamika, dari musuhan, baikan, sampai ‘sekongkolan’. Sekarang, karena saya dan adik sudah dewasa, jarak usia kami tak begitu tajam terasa. Malah, adik saya telah menjadi sahabat terbaik saya, dan hubungan kami telah mengajarkan banyak hal penting dalam hidup.

Begitu pula para kakak dan adik di dalam buku “Serunya Punya Saudara” – yang pasti akan membuat Anda dan buah hati tersenyum geli bersama. Sebelas cerita di buku ini dituturkan dengan gaya bahasa luwes dan enak dibaca, kadang dari sudut pandang kakak, dan kadang dari persepsi adik. Ditemani ilustrasi dan format cantik, tema-tema cerita terasa dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Para kakak, misalnya, digambarkan memiliki tanggung jawab membantu orangtua mengurus adik. Ini menjadi potensi konflik saat mereka lantas merasa tidak bebas karena harus menjadi ‘penjaga adik’. Belum lagi, para kakak ini merasa tak lagi menjadi pusat perhatian orangtua dengan kehadiran adik. Mereka merasa adik lebih dimanja, padahal para adik sepertinya hanya suka mengekor dan meniru!

Tetapi, cerita dari sudut pandang adik menunjukkan bahwa jadi adik tak selalu enak. Para adik sesungguhnya merasa kesal saat dibanding-bandingkan dengan kakak, belum lagi jika mereka punya kakak yang overprotektif dan memperlakukan mereka seperti bayi. Yang juga bikin para adik sebal: Mereka sering kali harus menerima barang lungsuran dari sang kakak!

Namun, dinamika hubungan kakak-adik dalam cerita-cerita ini justru menyadarkan bahwa saudara kita, baik kakak maupun adik, adalah teman terbaik kita. Kakak-beradik memang suka tak akur, tetapi bukan berarti mereka tidak saling menyayangi. Seperti dalam cerita “Teman Pertamaku”, di mana Nissa yang sebal harus pindah rumah menyadari bahwa keberadaan kakaknya yang petualanglah yang bisa membuatnya semangat mengenal tempat baru.

Saat kesulitan, adik atau kakaklah tempat kita meminta tolong. Tak hanya saling bantu dan pinjam barang, kita dan adik/kakak juga bisa saling menguatkan. Oki dan Arin dari cerita “Partner in Crime” menunjukkan bahwa mereka tak hanya bahu-membahu dalam kekonyolan, tapi juga hal yang berguna, seperti membuat taman bacaan sederhana untuk lingkungan mereka. Adik kesal karena selalu terima barang warisan? Kakak diam-diam mengerti. Dalam “Bekas Kakak”, Kak Kikan yang paham perasaan adiknya berusaha mencari uang jajan tambahan untuk membelikan tas baru bagi sang adik.

Sibling rivalry atau persaingan yang umum terjadi antara kakak dan adik juga bisa jadi hal positif bagi perkembangan emosi anak. Dalam cerita “Aku Bukan Dia” misalnya. Gia berusaha keras menjadi lebih baik dari Gio, kakaknya yang sangat pandai. Namun kadang ini tak selalu buruk, karena ini melatih anak untuk berkompetisi yang sehat dan memacu diri menjadi lebih baik.

Semua pesan positif ini disajikan dengan ringan dan kadang jenaka, tanpa nada menggurui. Yang tak kalah menarik, bagi saya cerita-cerita dalam buku ini tidak hanya menunjukkan serunya hubungan saudara, tapi juga masa kanak-kanak di Indonesia yang terasa relevan: orangtua yang sibuk sehingga perhatian mereka kadang terbagi-bagi, dan anak-anak yang riang, banyak teman, dan banyak akal dalam mencari solusi.

Buku manis ini cocok dibaca anak usia 8-12 tahun, baik yang punya saudara maupun tidak.

Herdiana Hakim

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *