Tifa Tua

Dung dung dum!

Ketika tifa ditabuh, tubuh Ardha dan Adi akan bergerak-gerak sendiri tanpa disuruh. Kekuatan gaib seakan mengambil kendali atas tubuh kedua bocah sekolah dasar itu. Lalu mereka terlempar ke masa lalu, ke tengah hutan Papua di tahun 1800-an. Di sana, mereka melihat sekelompok tim ekspedisi ilmiah sedang bertengkar tentang sebuah tifa tua. Tifa yang baru saja mereka tabuh.

Tak lama, Ardha dan Adi kembali ke masa kini. Tetapi, mereka tidak bisa melupakan kejadian aneh yang baru saja menimpa. Mereka telanjur penasaran. Maka, Ardha menyelediki lebih lanjut tentang tifa tua yang ditemukannya di gudang rumahnya. Fakta demi fakta pun terbuka tentang asal-usul benda itu, serta tentang ekspedisi imliah yang melibatkan empat orang Belanda.

Tifa-Tua1

Bukan hanya itu. Ardha dan Adi akhirnya menyadari bahwa apa yang terjadi di masa lalu saat tifa ditabuh juga terjadi di masa kini. Tim ekspedisi bertengkar, Ardha dan Adi juga bertengkar. Tim ekspedisi berkelahi dengan penduduk lokal, tim sepakbola sekolah Ardha dan Adi juga berkelahi dengan tim sekolah tetangga.

Keadaan semakin gawat ketika Ardha dan Adi melihat ada kebakaran dan perang di masa lalu. Mereka harus menyelesaikan misteri yang menyelimuti tifa tua sebelum benda itu benar-benar memakan korban di masa kini.

“Tifa Tua” adalah salah satu judul dari “Weird dan Wicked Series” yang dirilis oleh Penerbit Kiddo. Dilihat sekilas dari judul dan sampul bukunya, isinya pasti tak jauh-jauh dari misteri. Namun, para orangtua tak perlu khawatir.

Walau ilustrasi sampul berkesan suram dan gelap, isi ceritanya sama sekali tidak seperti itu. Djokolelono mampu menyelipkan nuansa kanak-kanak yang ceria dan penuh semangat di dalamnya. Percakapan yang ada di dalam buku tetap khas percakapan yang akan dilakukan anak. Begitu pula dengan ledekan dan gurauan mereka.

Tifa-Tua2

Halaman “Weird and Wicked File” yang memaparkan fakta-fakta seputar tifa juga berhasil dikemas dengan baik. Isinya menarik, menyenangkan, dan mudah dimengerti.

Satu hal lagi: Djokolelono juga piawai menyelipkan unsur-unsur pendidikan di dalam cerita. Pembaca tidak akan merasa seperti sedang disuruh belajar mengenai budaya atau sejarah yang membosankan. Unsur-unsur sejarah dan budaya itu berhasil dikemas ringan dan menyatu dengan baik dalam cerita.

Anak-anak berusia delapan tahun ke atas  tidak akan mengalami kesulitan menikmati “Tifa Tua”. Apalagi bila mereka menyukai cerita misteri!

Agustina Sugianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *