Warna-Warni Cerita Seru dari Raja Ampat

Persis judulnya, buku penuh warna ini menyajikan cerita seru yang ibarat “jendela” bagi kita untuk melongok kehidupan anak-anak di Papua Barat.

Ada 6 cerita di dalam buku ini dengan tokoh utama yang berganti-ganti. Ada lucu, ada sedih… tapi selalu berakhir penuh harapan. Ilustrasinya pun berupaya menggambarkan kekayaan alam Raja Ampat dengan ragam pulau, hewan, serta penduduknya. (Bahkan, juga para turisnya!)

Dibuka dengan “Selamat Datang di Raja Ampat”, seekor elang dengan sayap terluka terbang melintasi gugusan pulau di Waigeo. Meski keindahan alam menghiburnya, sang elang akhirnya jatuh ke darat dan diselamatkan sekelompok pemuda yang sedang berwisata. Dari para turis itu, elang mendengar bahwa mereka ada di Pulau Wayag, “surga kecil” yang hanya sebagian dari Raja Ampat yang luas. Elang dirawat hingga kuat untuk terbang kembali, dan tujuan pertamanya adalah… Pulau Wayag.

Dalam cerita kedua, tampil seorang bocah lokal bernama Sheila, gadis cilik yang tengah bersedih karena kakaknya pergi ke Sorong untuk sekolah. Saat jalan-jalan di dermaga, Sheila dan teman-temannya bertemu turis baik hati yang membawakan buku dan pensil warna. Sebagai gantinya, sang pelancong minta diantar ke tempat pembuatan tas noken, yang tak lain adalah rumah Sheila sendiri. Hari yang muram pun berubah ceria.

Cerita berikutnya membawa kita ke dasar samudra. Penghuni perairan Raja Ampat tampak semarak dalam persiapan karnaval untuk Hari Laut Sedunia. Namun, Pari Manta dirundung sedih karena sahabatnya, ikan kalabia, ditangkap pemburu hiu. Atas bujukan teman-temannya, Pari Manta mau ikut berlatih untuk karnaval. Kesedihannya pun tak larut, karena kalabia lalu muncul! Hiu endemik Papua ini ternyata diselamatkan penjaga laut.

Alam sebagai penghibur menjadi premis cerita berikutnya, “Pelangi di Pulau Misol”. Seorang anak lelaki yang bersedih karena kehilangan kamera dilipur oleh angin, camar, paus, sampai ketam. Mereka berusaha menunjukkan bahwa alam terlalu indah untuk diabaikan. Sang anak lelaki pun akhirnya melupakan kesedihannya dengan berenang di laut bersama ikan-ikan cantik.

Selain elang, dua jenis burung lain juga menjadi tokoh utama, yakni dalam “Nyanyian Burung Nuri” dan “Pertunjukan Menari Cendrawasih”. Nuri menolong bintang laut yang terdampar di pantai, sedangkan cendrawasih mengajarkan pentingnya rasa percaya diri, meski kita berbeda atau punya kekurangan.

Sementara itu, dalam “Bertualang di Teluk Mayalibit” dan “Cap Tangan Misterius di Teluk Kabui”, pembaca bisa merasakan kesederhanaan hidup anak-anak di Raja Ampat. Walau bisa makan dan bersekolah, ada makna siratan bahwa kondisi ekonomi yang kurang membuat anak-anak ini tak menikmati akses dan fasilitas yang dirasakan anak-anak di kota.

Dalam “Bertualang di Teluk Mayalibit”, Michael yang hendak ulang tahun ingin dapat hadiah, walau orangtuanya tidak memiliki tradisi tersebut. Dengan kesederhanaan, hadiah apa yang bisa diberikan? Jawabnya: kemagisan alam. Kala malam tiba, ayah Michael mengajaknya menangkap ikan di laut. Ini menjadi kado ulang tahun penuh kesan, karena Michael dipukau oleh ratusan ikan lema yang keluar ke permukaan laut dan mengikuti cahaya lampu di perahu sang ayah.

Sementara itu, dalam “Cap Tangan Misterius di Teluk Kabui”, Marina si gadis kecil ingin sekali ke Teluk Kabui, karena di sana ada batu dengan cap tangan dari zaman purba. Meski masih berada di kabupaten Raja Ampat, Marina tak sanggup membayar biaya perjalanan yang mahal ke sana. Pucuk dicinta ulam tiba. Seorang turis yang ditolongnya memberikan tempatnya di dalam tur ke Teluk Kabui. Hore!

Seluruh cerita yang disajikan tampaknya berusaha untuk meyakinkan para pembaca cilik bahwa masalah dalam hidup tak boleh menghalangi kita untuk tetap optimis. Alam juga senantiasa menjadi teman penghibur yang baik saat tantangan menghadang.

Karena teks yang cukup padat dan kompleksitas cerita, buku ini cocok untuk anak yang sudah mahir membaca. Orangtua, guru, atau pencinta buku juga pasti akan menikmati bacaan ini, yang tak hanya memberi kita perasaan hangat, tapi juga keinginan yang (tambah) menggebu untuk pergi ke Raja Ampat!

Herdiana Hakim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *