Ketika Anak Menulis Buku

Wajah penulisan buku anak di Indonesia telah memasuki suatu babak baru. Sejak 2003, dimulailah sebuah pergeseran ketika anak-anak menjadi penulis buku untuk mereka sendiri. Hal ini menambah warna dalam dunia sastra kita karena berbeda dengan orang dewasa, anak-anak memiliki gaya dan bahasa “milik” mereka sendiri. Hasilnya, buku anak yang ditulis oleh anak-anak pun berbeda dengan buku anak karya orang dewasa.

Pergeseran ini dimulai dari buku seri Kecil-Kecil Punya Karya yang diterbitkan oleh penerbit Dar! Mizan, dengan buku berjudul “Kado untuk Ummi” karya Sri Izzati yang saat itu berusia 8 tahun. Sejak itu, penerbit Mizan secara konsisten menerbitkan karya anak-anak, baik dalam bentuk novel maupun komik, yang kemudian memperoleh tempat tersendiri di hati para pembacanya.

Hal yang menarik, kebanyakan penulis buku anak-anak ini berusia 12 tahun ke bawah. Tentunya, karakteristik usia tersebut berkaitan dengan karakteristik psikologis yang dimiliki anak-anak. Di usia ini, anak-anak masih memiliki imajinasi tanpa batas. Oleh sebab itu jika kita perhatikan, kebanyakan karya mereka belum mengaitkan dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi di dunia. Semua tergantung imajinasi mereka, misalnya cerita tentang kue ajaib, dunia ajaib yang berisi makhluk-makhluk kecil yang lucu dengan berbagai karakternya, atau cerita yang berkisah tentang benda-benda yang bisa berbicara.

Mengapa anak-anak memiliki imajinasi yang beraneka ragam? Para ahli psikologi percaya bahwa salah satu alasannya adalah karena imajinasi merupakan salah satu cara anak-anak untuk memahami sekaligus melarikan diri dari realita di dunia nyata. Mereka menciptakan penjelasan-penjelasan tersendiri, hipotesis, serta kesimpulan-kesimpulan yang kiranya mudah mereka terima dalam upaya memahami kejadian-kejadian yang mereka alami sehari-hari.

Para ahli psikologi juga percaya bahwa imajinasi memiliki hubungan erat dengan proses berpikir kreatif. Oleh sebab itu, jangan heran jika buku yang ditulis anak-anak ini memiliki cerita yang unik, seperti kisah khayalan yang tidak benar-benar terjadi di dunia nyata. Contohnya, buku “Peri Hujan Menangis” karangan Cut Nisaa (12 tahun) atau buku “Manusia Bunglon” karangan Thia (9 tahun) yang memiliki tokoh-tokoh utama  berupa makhluk fiktif hasil khayalan mereka.

Semakin tidak masuk di akal, semakin kreatif mereka berimajinasi, apalagi jika didukung dengan detail konkret yang beragam, yang tentunya memerlukan proses berpikir kreatif yang lebih kompleks. Detail dan kekonkretan cerita yang diciptakan sangat dapat dipahami, mengingat kemampuan kognitif anak-anak yang lebih ke arah hal-hal yang sifatnya konkret sehingga mereka cenderung membuat cerita yang mengarah ke hal-hal tersebut. Ini sejalan dengan tahap perkembangan kognitif mereka seperti dijabarkan ahli psikologi perkembangan, Jean Piaget.

Bagi anak-anak, menulis sebuah cerita merupakan suatu cara untuk mengekspresikan imajinasi mereka yang berisikan fantasi-fantasi, impian, serta harapan yang mereka inginkan di dunia nyata. Colello dalam tulisannya yang berjudul “Imagination in Children’s Writing: How High Can Fiction Fly?” (2007) menjelaskan bahwa dengan menulis, anak-anak cenderung menerjemahkan fantasi, impian, dan harapan yang mereka terima, visualisasikan, dan bayangkan menjadi suatu bentuk fisik yang dapat dilihat secara nyata dengan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.

Oleh sebab itu, meski berkisah tentang pengalaman hidup sehari-hari, sering kali imajinasi anak-anak yang dituangkan dalam buku yang mereka ciptakan berasal dari kebutuhan mereka sendiri, seperti kebutuhan rasa aman yang dituangkan dalam kisah yang memperlihatkan ketakutan mereka akan kehilangan, impian yang mereka idam-idamkan, atau masalah yang mereka hadapi, seperti masalah pertemanan, masalah dengan saudara kandung, atau dengan orangtua.

Ini bisa dilihat pada buku karangan Rizky Nur Fajri (10 tahun) yang berjudul “Kupetik Bintang”, yang menceritakan tentang pengalaman hidupnya dari persepsi anak-anak dalam menghadapi kejadian yang menyakitkan dan menakutkan, yaitu sebuah kecelakaan yang menyebabkan ia mengalami luka-luka serta kehilangan paman dan bibinya. Atau, buku dengan judul “My Soulmate” karya Zharine (9 tahun) yang berkisah dengan jujur tentang persahabatan anak-anak.

Cerita yang ditulis anak-anak juga mencerminkan keyakinan dan optimisme, upaya untuk mencapai kemandirian, serta upaya untuk menerima keadaan dan perasaan negatif (misalnya rasa putus asa), seperti pernah dijabarkan oleh pakar sastra anak Indonesia, Murti Bunanta, dalam bukunya yang berjudul “Problematika Penulisan Cerita Rakyat untuk Anak di Indonesia” (1998).

Dari segi bahasa, terlihat bahwa karya anak-anak lebih lugas, apa adanya, dan banyak menggunakan bahasa langsung. Oleh sebab itu, jika diperhatikan, banyak sekali bentuk dialog atau percakapan dalam buku karya anak-anak. Percakapan itu terlihat sangat detail sehingga inti percakapan disampaikan dengan lambat. Bagi sebagian orang dewasa, buku cerita yang ditulis oleh anak-anak mungkin terasa membosankan. Namun, tidak demikian bagi anak-anak. Mereka memerlukan deskripsi cerita dan kalimat yang detail serta panjang untuk membangkitkan imajinasi mereka. Semakin jelas detail cerita yang diungkapkan, semakin luas imajinasi anak-anak tersebut ketika membayangkan isi cerita yang ada di dalam pikiran mereka.

Yang menarik, meski ditulis oleh anak-anak, buku-buku karya anak-anak ini juga kaya dengan pesan moral. Misalnya, buku yang berjudul “My Soulmate” karya Zharine, yang menceritakan tentang pentingnya menjaga persahabatan dengan menepati janji persahabatan, yaitu selalu bermain bersama, tidak akan pernah bertengkar, saling menolong, dan tidak boleh menghancurkan persahabatan. Selain itu, dalam buku ini terdapat pesan moral untuk bersikap sportif dan berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Semua ini ditulis dari persepsi anak-anak. Karena itu, tidak mengherankan jika dalam poin janji persahabatan yang dibuat oleh para tokoh dalam buku ini, terdapat poin tentang “selalu bermain bersama”, yang mungkin tidak akan muncul di buku anak-anak yang ditulis oleh orang dewasa. Ini karena orang dewasa cenderung memasukkan realita ke dalam cerita dan memiliki persepsi sendiri bahwa yang disebut dengan persahabatan tidak selalu berarti harus selalu bermain bersama.

Buku karya anak-anak ini merupakan terobosan penting dalam dunia sastra Indonesia. Meski demikian, ada sebuah pertanyaan menggelitik, terutama bagi buku-buku yang banyak menggunakan istilah asing, misalnya di bagian judul. Hal itu terasa agak bertolak belakang dengan semangat kebangsaan kita yang salah satunya ditunjukkan dengan mempopulerkan bahasa Indonesia dan bangga berbahasa Indonesia. Akan lebih menarik jika para penulis cilik ini diarahkan untuk menggunakan judul berbahasa Indonesia. Hal ini sekaligus untuk mengajarkan kecintaan terhadap bahasa sendiri. Pengecualian terjadi apabila memang berkaitan dengan tempat atau istilah-istilah tertentu yang memang sulit dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia.

Selain itu, diperlukan gambar-gambar yang lebih banyak dan menarik terutama dalam buku novel anak untuk membuat buku lebih menarik untuk dibaca. Adapun gambar tidak selalu berbentuk manga seperti ada selama ini, tetapi dapat dikembangkan dengan ilustrasi gambar dengan bentuk lain.

Pada akhirnya, membaca cerita yang ditulis anak-anak merupakan suatu hiburan tersendiri, sekaligus membantu kita memahami apa yang dipikirkan anak-anak serta apa persepsi mereka tentang dunia, lingkungan, dan masyarakat di sekitarnya.

Rangga Dewati

Foto Rangga

Rangga Dewati adalah ibu dua anak, saat ini tinggal di Tangerang Selatan. Ia menyelesaikan S1 Psikologi di Universitas Medan Area (1998), Profesi Psikolog di Universitas Indonesia (2001), dan Magister Sains Psikologi Pendidikan di Universitas Indonesia (2011). Selain berpraktik sebagai psikolog anak dan remaja, saat ini Rangga tercatat sebagai staf di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai widyaiswara/trainer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *