Kisah dari Alor

Buku cantik ini langsung menarik perhatian mata saya saat seperti biasa sedang berburu buku anak. Selain cantik, ia membawa misi penting sebagai bagian dari proyek buku anak Lintas Nusantara, yang ingin memperkenalkan budaya anak lokal pada anak-anak Indonesia lain.

Dibuka dengan peta Alor yang membuat takjub sekaligus malu karena saya tidak tahu apa-apa soal pulau kecil di Nusa Tenggara Timur ini (dan sejujurnya banyak wilayah Indonesia lain). Dengan ilustrasi ala coretan pensil anak-anak dan doodle, buku ini berisi 5 cerita pendek yang membawa kita berkenalan dengan anak-anak Alor dan kehidupan sehari-hari mereka.

alor_6

Budaya dan alam menjadi elemen dominan. Unsur budaya lokal diperkenalkan melalui cerita ‘Aloysius Si Pemetik Kediding’ – favorit saya di buku ini. Cerita ini mengikuti perjalanan Aloysius yang belajar untuk berani tampil memainkan alat musik tradisional di saat teman-temannya semua memainkan alat musik modern. Meski awalnya malu memainkan kediding, Aloysius bertekad untuk mencoba berani. Pada akhirnya, ia tidak keluar sebagai juara, namun mendapat pengalaman berharga seperti berkenalan dengan warga negara lain dan mendapat hadiah sepeda. (Selesai baca cerita ini, saya langsung mencari tahu tampang dan bunyi kediding!)

alor_2

Nilai budaya lokal juga dieksplor dalam ‘Bertualang di Museum Seribu Moko’, di mana anak-anak diajak mengenal moko, peninggalan prasejarah yang kemudian menjadi benda penting bagi masyarakat Alor dan diburu pedagang barang antik. Dalam ‘Lusia Si Pemalu’, nilai budaya berupa tarian lego-lego turut mendorong Lusia yang merasa tidak punya kepandaian apa-apa dibanding teman-temannya menyadari bahwa setiap anak memiliki kelebihan.

alor_3

Dua cerita, ‘Pahlawan Pulau’ dan ‘Anak Baru dari Jakarta’, menekankan pada pentingnya menjaga kekayaan alam. Dalam ‘Pahlawan Pulau’, anak-anak yang baru belajar soal makna ‘pahlawan’ didorong untuk menjadi pahlawan bagi Alor melalui perbuatan kecil tapi berarti, seperti memunguti sampah di sepanjang pantai dan melaporkan perusak terumbu karang. Sementara itu, Amalia dalam ‘Anak Baru dari Jakarta’ mengajarkan teman-temannya memilah dan mendaur ulang sampah. Amalia juga menyadarkan teman-teman barunya di Alor bahwa tinggal di alam yang indah berudara segar lebih menyenangkan daripada kota besar penuh polusi.

alor_5

“Kisah dari Alor” memperkenalkan apa yang dikenal dalam sosiologi sebagai ‘children agency’ atau kemampuan anak untuk berperan aktif dalam menjalani masa kanak-kanak mereka. Karakter-karakter dalam cerita ini mengukuhkan bahwa anak-anak pun bisa menjadi agen perubahan bagi lingkungan mereka.

Cocok untuk usia SD, baik dibacakan untuk anak-anak yang masih SD awal maupun dibaca sendiri bagi yang sudah duduk di kelas lebih besar. Yang pasti, saya menantikan buku lain dari proyek Lintas Nusantara ini.

alor_backcover

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *